Museum Kematian di Surabaya: "Kematian Bukanlah Akhir.."
55 1 20-02-2017
4 suka
19-10-2018, 11:27:34

Sebuah museum di kota Surabaya Jawa Timur memiliki tujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai ritual pemakaman Indonesia dan kaitannya dengan bidang lain, termasuk ekonomi dan budaya.

Museum Etnografi dan Pusat Studi Kematian terletak di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga di Surabaya.

Saat memasuki museum, orang-orang mungkin mencium aroma tertentu yang dapat mengingatkan mereka pada kemenyan. Namun Toetik Koesbardiati, kepala manajemen museum, dikutip dari Jakarta Post menyebutkan bahwa bau itu berasal dari aromaterapi. "Kami menggunakannya untuk melindungi museum dari bau busuk," kata Toetik. "Kami juga menggunakan dupa, tetapi tentu tidak untuk ritual untuk memanggil roh."

Dibangun pada tahun 2005, museum ini kebanyakan menggunakan infografis untuk mengedukasi pengunjung tentang upacara pemakaman. Museum ini juga menyediakan replika, di antaranya adalah upacara pemakaman di desa Trunyan, Bali, dan Toraja, Sulawesi Selatan. Sebagian orang menyebut museum ini sebagai rumah hantu karena memiliki satu ruangan dengan pocong imitasi di dalamnya. “Orang-orang dikafani ketika mereka dikubur dengan cara Islami. Kami menambahkan pocong sebagai refleksi bahwa suatu hari kita akan mati dan diperlakukan seperti itu, ”kata Toetik.

Di ruangan yang sama, ada buku dan penelitian tentang kematian, akhirat, dan topik terkait lainnya. "Buku-buku ini menunjukkan bahwa kematian sering dieksplorasi sebagai topik tertentu, tetapi banyak orang masih menghindari membicarakannya," kata Toetik.

Berlokasi di sebuah bangunan dua lantai, museum ini juga memiliki tempat kriminal tiruan, jelangkung (media tradisional yang digunakan ketika memanggil roh), dan jenis kuburan berdasarkan agama yang berbeda di Indonesia. Ada juga koleksi kerangka manusia nyata yang disimpan dalam kotak kaca.

Di satu sisi bagian dinding, museum ini menampilkan koleksi kerangka manusia buatan bertema "My lifestyle determines my death style" atau diterjemahkan menjadi "Gaya hidup saya menentukan gaya kematian saya", yang berarti bahwa pengunjung dapat belajar tentang gaya hidup seseorang dari jenazah mereka. Dalam ilmu forensik, kerangka dapat mengisyaratkan tentang jenis kelamin, tinggi, penyakit, dan informasi lain tentang identitas mereka ketika mereka masih hidup. "Misalnya, kita dapat mengetahui bahwa seseorang adalah pemain saksofon dari struktur gigi mereka," kata Toetik.

Museum ini memiliki laboratorium sendiri untuk mendukung studinya dan membuka peluang untuk berkolaborasi dengan lembaga penelitian lain. Museum ini juga menyambut siswa SMA yang ingin belajar tentang forensik, anak-anak dan pengunjung asing karena mereka memiliki panduan berbahasa Inggris.

Dengan pendekatan uniknya, museum ini dianugerahi Purwakalagrha oleh Indonesia Museum Awards 2018.

“Masyarakat jarang berbicara tentang kematian, sementara mereka berusaha keras untuk tetap hidup karena mereka takut mati. Dalam biologi, kematian itu alami karena tubuh ini tidak semakin muda,” kata Toetik. “Kenyataannya, budaya kita memiliki banyak perayaan kematian. Saya menyebutnya 'perayaan' karena membutuhkan banyak uang dan orang. Ini menyiratkan bahwa kematian memiliki tempat khusus dalam budaya kita. Itulah yang kami coba gambarkan [di museum kami], meskipun lokasi kami masih belum bisa memuat [untuk semua upacara pemakaman] dari seluruh Indonesia. ”

Dikelola di bawah program Antropologi Universitas Airlangga, museum ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kematian tidak pernah sederhana. “Kematian terkait dengan aspek lain, salah satunya adalah ekonomi. Beberapa upacara pemakaman tidak murah - di Bali kita punya upacara ngaben dan di Jawa kita memiliki ritual lain setelah prosesi penguburan,” kata Toetik. “Kematian juga menciptakan aspek ekonomi lainnya, seperti rumah duka dan penata rias kamar mayat, maka kematian bukanlah akhir, tetapi ini adalah permulaan. Ini memberi ruang bagi kita untuk mempelajarinya.”

Museum ini buka dari hari Senin hingga Jumat mulai pukul 10 pagi hingga 3 sore.

Sumber : GNFI

 

Silahkan login untuk meninggalkan balasan.

Pesan

Notifikasi